Kamis, 28 Mei 2020

ADAT DAN UPACARA KAWINAN DAERAH JAWA BARAT


Benda-benda yang disiapkan dalam upacara ngeuyeuk seureuh (salah satu upacara yang ada dalam adat dan upacara perkawinan daerah Jawa Barat):

1.       Sirih beranting
2.       Setandan buah pinang muda yang isinya masih seperti ingus
3.       Gambir secukupnya
4.       Kapur sirih secukupnya
5.       Tembakau secukupnya
6.       Mayang pinang
7.       Kasang jinem
8.       Pakara
9.       Tunjangan
10.   Elekan
11.   Rambu
12.   Ajug
13.   Harupat (segar enau)
14.   Air dalam kendi tanah yang baru atau kele
15.   Batu pipisan dengan batu gilasnya
16.   Lumpang batu dengan alunya
17.   Bokor berisi beras putih, irisan kunyit, bunga-bunga dan uang
18.   Telur ayam sebutir
19.   Bokor berisi air dan 7 warna bunga-bungaan
20.   Sehelai tikar pandan yang baru
21.   Kain putih (kain kafan)
22.   Parukuyan atau pedupaan
23.   Ayakan
24.   Kayu bakar dan daun pisang
25.   Parawanten
26.   Pakaian kedua mempelai

Bahan-bahan upacara semuanya dionggokan, kecuali ajug (pelita). Mula-mula kasang jinem atau penggantinya yaitu kain poleng (semacam pelekat) dibentangkan paling bawah, benda-benda lain ditaruh di atasnya ditutupi pula dengan kain putih. Perempuan-perempuan yang akan melakukan upacara duduk mengelilingi onggokan. Kedua mempelai  ikut duduk bersanding.

Pengetua membuka upacara dengan istilah ijab qabul. Sehabis itu dimintanya orang tua laki-laki untuk membakar kemenyan dan membacakan do’a selamat. Selesai mendo’a, pengetua menyulut ketujuh sumbu pelita di ajug sampai menyala semuanya da memberi penjelasan yang ditujukan kepada kedua calon pengantin bahwa: sumbu yang 7 melambangkan jumlah hari yang 7 dengan mataharinya. Semuanya terang benderang karena ada matahari atau api. Merupakan isyarat kepada kedua mempelai agar nanti sesudah jadi laki-isteri masing-masing berterus terang pun kepada orang lain, haruslah rela mengamalkan kebaikan, artinya memberikan penerangan. Tetapi jangan bersifat “ilmu ajug”, sinar api pelita hanya dapat menerangi ajugnya, tetapi tidak bisa menerangi ajugnya sendiri yang ada di bawahnya, karena terlindung (terbayangi) oleh pelitanya (tempat minyak).

Pengetua mengangkat kain kafan dan tikar ditutup benda-benda upacara, menjelaskan: bagaimanapun keadaan manusia, laki-laki, perempuan, kaya, miskin, pembesar, rendahan dsb, akhirnya pada suatu saat hanya dibungkus dengan kain kafan dan tikar dibawa ke kuburan. Berhubung dengan itu, selama masih hidup harus insyaf, taat kepada ajaran-ajaran agama, perintah-perintah Tuhan, jang berbuat kejahatan, harus berbuat baik kepada semua manusia dsb.

Ranting-ranting sirih dibagikan kepada masing-masing peserta dan terus memulai ngeuyeuk, caranya “perut” sebagai sirih dari ranting yang satu dilekatkan dengan “perut” daun sirih dari satu ranting yang lain, kedua tepinya kanan dan kiri digulung sehingga keduanya bertemu di tengah-tengah di betulan induk tulang daun, lalu di ikat dengan rambu (benang tenun yang kokoh kuat) bentuk serupa ini disebut lungkun. Selesai membuat lungkun, dipertemukan lagi dua helai sirih dari masing-masing ranting seperti tadi, salah satu bagian belakangnya diulas dengan kapur sirih basah, dibumbui gambir halus dan irisan pinang, memadai untuk dimamah. Dilipat dua atau tiga lipatan ke samping sehingga merupakan lipatan panjang, bagian bawah lipatan dipintal ke atas dan ujungnya dilipat ke dalam sehingga berbentuk susuh atau kerucut dan ini disebut tektek. Perihal sirih lungkun dan tektek, artinya: kedua helai daun sirih yang berlainan ranting menunjukkan dua jenis insan edua helai daun sirih yang berlainan ranting menunjukkan dua jenis insan yang berlainan asal tempat tinggalnya. Tegasnya bukan kawan serumah atau saudara kandung. Perut keduanya ditempelkan atau dipertemukan (dikawinkan). Keduanya itu berlainan jenis, digambarkan oleh serangkap daun yang dilipat, dipintal hingga menjadi tektek, dan di rongganya disumpalkan tembakau, memperlambangkan perempuan, seolah-olah anggota rahasia perempuan. Sedangkan rangkap yang digulung yang disebut lungkun, diibaratkan anggota rahasia laki-laki. Lungkun diikat dengan rambu, ibarat bahwa yang mengikat laki-laki adalah wanita, itulah sebabnya maka sebagi pengikat haruslah rambu sebab rambu adalah hasil pekerjaan perempuan. Orang makan sirih pun harus jadi teladan, dikunyah lambat-lambat, sarinya ditelan, ampasnya beserta ludah merah dan bekas sugi dibuang. Dalam segala langkah harus dipikir, dipertimbangkan masak-masak dengan tenang, yang baik diambil, yang buruk dibuang sesuai dengan peribahasa “dibeuweung diutahkeun”. Tektek adalah juga melambangkan kerukunan, sebab bilamana isi tektek tidak seimbang akan berakibat buruk kepada si pemakan sirih, setidak-tidaknya tidak akan merasa nikmat.

Tandanan pinang muda, dilihat buah-buahan berkumpul seolah-olah makhluk Tuhan yang sangat rukun dan teratur, artinya: manusia harus hidup rukun dengan siapa saja, lebih-lebih sebagai suami-isteri. Diberitahukan pula bahwa bilamana pinang muda itu dibelah isinya masih seperti ingus, menjijikan sehingga orang Sunda memberi nama “jambe gumeuleu”, artinya pinang sedanh menjijikan harus dibuang, harus dijauhi.

Mayang pinang (bunga pinang) yang masih terbungkus seludangnya diibaratkan seorang gadis yang masih utuh kegadisannya (suci, perawan) lalu dipecahkan oleh calon mempelai laki-laki. Diumpamakan gadis yang dikawini, si gadis harus melaksanakan kewajibannya sebagai seorang isteri, serta menginsafi bahwa dengan jalan itu ia harus mengembangkan keturunan. Sesuai dengan keadaan bunga pinang itu setelah pecah seludungnya jadi terurai, kembang.

Tunjangan: sebagai petunjuk kepada yang bersuami isteri harus tunjang-menunjang agar rumah tangga aman sejahtera, rukun dan makmur. Lebih-lebih lagi seorang suami, ia harus bersifat seperti tunjangan temapt menunjang kaki perempuan (penenun) sehingga duduknya mantap.

Elekan, karena tidak berkantih ia tidak ada gunanya. Lebih-lebih dalamnya kosong melompong, tak dapat dipergunakan apa-apa. Pantasnya hanya dipecahkan dan dibuang, hal itu dilakukan waktu upacara habis kawin (pada upacara injak telur). Berhubung dengan itu manusia  harus berilmu, berakhlak, berisi supaya berguna.

Telur ayam mentah bersama-sama dipecahkan dengan elekan setelah pada upacara injak telur. Bedanya elekan dipecahkan lebih dahulu diinjak dengan kaki kanan sedang telur diinjak dengan kaki kiri, memberi isyarat: pengantin perempuan bersedia dirusak dipecahkan kegadisannya, asal “yang punya” jangan diabaikan. Memberi pengertian pula bahwa: setelah telur itu pecah nampak isinya berupa lendir yang menjijikan, padahal setengah cair itu adalah bakal makhluk, malahan bakal manusiapun (air mani) yang seperti itu juga, semua sama tidak ada perbedaan. Berhubung dengan itu, sebagai insan manusia tidak boleh sombong, jangan besar kepala dsb sebab asalnya sama.
Hareupat (sagar enau) sifatnya mudah patah dan kalau patah sekaligus putus. Manusia kadang-kadang mempunyai sifat “getas harupateun” (mudah patah seperti sagar), artinya: pemberang atau mudah marah, sifat ini harus dibuang jauh-jauh. Itulah sebabnya pada upacara injak telur, sagar itu dibakar oleh mempelai perempuan di api pelita, setelah menyala sebentar segera di padamkan dan dibuang.

Air dalam kendi atau kele, sifat airnya dingin dan biasa dipakai mencuci atau membersihkan. Sehabis upacara nyawer, sebelum kedua mempelai naik rumah, dicucuran atap oleh mempelai perempuan itu dipakai mencuci kaki mempelai laki-laki pada upacara injak telur, maknanya: suami masuk ke rumah harus membawa hati yang bersih dan dingin segar agar rumah tangga tenteram dan damai sesuai dengan peribahasa “peupeus kendi, beak cai, kudu pada tiis ati paniisan di taweuran”.

Batu pipisan lengkap dengan batu penggilasannya merupakan alat untuk melembutkan ramuan obat-obatan. Waktu dipakai melumatkan sesuatu, batu penggilasannya yang kadang-kadang disebut lalakina digunakannya dengan dibaringkan hal ini diibaratkan orang (laki) berbaring di tempat tidur. Dijadikannya petunjuk bahwa: suami-isteri waktu di tempat tidur harus berlaku lembut, serba halus, harus dijauhkan betul perselisihan di tempat itdur, harus pula mempunyai pijakan hidup yang kokoh kuat seperti batu pipisan. Itulah sebabnya pada upacara injka telur, kaki mempelai laki-laki berpijak di atas batu pipisan ini sebagai lambang pijakan hidup.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar